Monday, July 23, 2012



SIKLUS ESTRUS ANJING
Permulaan Pubertas
Ras memegang peranan penting terhadap waktu dimana anjing pertama kali mengalami estrus. Secara umum, anjing menunjukkan siklus pertama mereka beberapa bulan setelah mencapai tinggi dan berat tubuh dewasa mereka. Ras beagle, contohnya, biasanya menunjukkan proestrus pertama mereka pada umur 7 – 10 bulan. Beberapa anjing ras kecil memasuki estrus pertama mereka pada umur 6 – 10 bulan. Walaupun anjing ras besar juga memulai proestrus mereka sebelum umur 1 tahun, beberapa anjing ras besar tidak memulai siklus sampai berumur 18 – 24 bulan. Gejala yang muncul pada saat ini bervariasi tergantung individu dan ras. Keberagaman ini ditambah dengan siklus yang dinamakan silent heat, membuat dokter hewan dan juga pemilik hewan sulit memprediksi waktu estrus pertama anjing.
Silent heat adalah estrus yang tidak terdeteksi oleh pemilik hewan karena hanya terjadi sedikit pembengkakan vulva, perdarahan, aktivitas menarik perhatian pejantan, dan perubahan tingkah laku pada anjing betina muda. Panjang pendeknya bulu anjing, kebersihan anjing, dan kehadiran anjing jantan di rumah adalah beberapa variabel yang dapat memudahkan pemiliki untuk mendeteksi estrus. Umur ideal untuk mengawinkan anjing adalah 2 – 6 tahun. Perkawinan pertama direkomendasikan pada selama estrus kedua atau ketiga, setelah pemilik menyaksikan paling tidak satu siklus normal ovarium yang sempurna.

Fase-fase Siklus Ovarium
Ada empat fase siklus ovarium pada anjing.
1. Proestrus. Ini merupakan periode dimana terjadi peningkatan aktivitas folikuler sebelum kemudian diikuti oleh estrus dimana pejantan tertarik pada betina namun betina menolak untuk dikawinkan,
2. Estrus. Estrus adalah periode dimana betina mengijinkan pejantan untuk menaiki dan mengawininya.
3. Diestrus. Ini merupakan periode setelah kawin dan berkaitan dengan aktivitas corpus luteum.
4. Anestrus. Waktu antara akhir fase luteal (progesteron) dan permulaan fase folikuler (proestrus) disebut anestrus.

Proestrus
Durasi. Proestrus dimulai ketika perdarahan vagina terlihat untuk pertama kali dan berakhir ketina betina mengijinkan pejantan untuk menaiki dan mengawininya. Kriteria lainnya yang digunakan untuk mendefinisikan permulaan dan akhir proestrus adalah perubahan mukosa vagina yang dilihat dengan menggunakan endoskop dan perubahan sitologi sel epital vagina. Kriteria lainnya meliputi pembengkakan vulva, menarik perhatian pejantan, dan perubahan tingkah laku terhadap pejantan. Lamanya waktu dari saat permulaan proestrus hingga saat kawin pertama kali biasanya 6 – 11 hari, dengan rata-rata 9 hari.
Gejala klinis. Pada saat awal proestrus, ketertarikan pejantan disebabkan oleh sekresi feromon. Peningkatan aktivitas untuk menarik perhatian pejantan namun menolak untuk dinaiki pejantan juga umum terjadi. Anjing betina juga akan berusaha menutupi vulvanya dengan menggunakan ekor. Tingkah laku ini akan berubah secara bertahap seiring berjalannya proestrus. Anjing betina biasanya menjadi lebih reseptif yang ditunjukkan dengan aktivitas bermain dengan pejantan. Pada akhir proestrus, tingkah laku anjing betina akan menjadi pasif dan bersedia untuk dinaiki pejantan, dengan atau tanpa lordosis dan pengangkatan ekor.
Proestrus dicirikan, walaupun tidak selalu, dengan lelerah dari vagina. Perdarahan vagina dimulai saat eritrosit mengalami diapedesis melewati endometrium dan secara subepitelial seiring rupturnya kapiler yang ada di endometrium. Darah ini kemudian mengalir melewati serviks yang relaksasi dan memasuki vagina. Sejumlah kecil eritrosit juga dapat berasal dari mukosa vagina. Perubahan cepat dari ketebalan dan perkembangan mukosa vagina dan endometrium merupakan respon terhadap sekresi estrogen dari folikel. Volume perdarahan bervariasi antara anjing betina yang satu dengan lainnya.
Anjing betina yang selalu membersihkan diri dengan jalan menjilati tubuh, proestrus menjadi sulit terdeteksi. Deteksi proestrus juga menjadi lebih sulit pada anjing berbulu panjang dengan ekor turun dibandingkan dengan anjing berbulu pendek yang tidak memiliki ekor. Lelerah darah dari vagina akan berhenti seiring proestrus memasuki estrus.
Vulva. Vulva yang membengkak selama proestrus disebabkan oleh akumulasi cairan. Vulva yang edema dan bengkak ini menghalangi masuknya penis pejantan. Seiring beralihnya proestrus menjadi estrus, vulva akan melunak secara dramatis dan menghilangkan rintangan yang sebelum terbentuk.
Perubahan hormon dan anatomi ovarium. Anjing betina pada saat proestrus berada dalam pengaruh estrogen. Estrogen disintesis dan disekresikan oleh folikel ovarium yang sedang berkembang. FSH dan LH dilepaskan pada akhir anestrus, dan peralihan dari anestrus menjadi proestrus berkaitan dengan peningkatan sekresi FSH dan LH. Akibat stimulasi gonadotropin, folikel menjadi masak dan mencapai kapasitasnya untuk mensintesis dan mensekresikan estrogen. Estrogen yang disekresikan menyebabkan leleran vagina, menarik perhatian pejantan, dan persiapan uterus untuk kebuntingan.
Konsentrasi estrogen yang meningkat secara dramatis selama proestrus berkaitan dengan perubahan dramatis pada uterus, mukosa vagina, dan vulva, dan juga pada sekresi folikuler dan tingkah laku anjing betina. Konsentrasi estrogen selama anestrus biasanya antara 5 – 15 pg/ml. Proestrus berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi estrogen (estradiol) diatas 15 pg/ml. Konsentrasi tertinggi estradiol dicapai pada 24 – 48 jam sebelum akhir proestrus (permulaan estrus).
Penurunan konsentrasi estradiol menstimulasi permulaan estrus. Selama 5 – 20 hari berikutnya, konsentrasi estradiol menurun secara progresif ke level basal. Konsentrasi progesteron selama proestrus kecuali pada 24 – 72 jam terakhir adalah rendah. Akhir proestrus dan permulaan estrus berkaitan dengan konsentrasi progesteron yang meningkat sementara konsentrasi estrogen menurun. Konsentrasi progesteron >1 ng/ml dibutuhkan untuk induksi perubahan tingkah laku estrus dan untuk memelihara kebuntingan.
Anatomi uterus, oviduct, dan kelenjar mamae.Beberapa jaringan target estrogen terpengaruh oleh peningkatan konsentrasi estrogen selama proestrus. Perubahan ini meliputi pertumbuhan duktus dan tubulus glandula mamae, proliferasi fimbria oviduct, penebalan oviduct, pemanjangan kornu uteri, penebalan endometrium, peningkatan sensitivitas myometrium, pembesaran serviks, pemanjangan dan edema vagina, proliferasi dinding vagina, dan sintesis enzim metobolis steroid hepatika. Persiapan implantasi di endometrium meliputi peningkatan ketebalan dinding dan aktivitas glanduler, yang berkaitan dengan perdarahan. Perdarahan uterus ini merupakan sumber utama perdarahan vagina pada saat proestrus.
Anatomi vagina dan endoskopi. Peningkatan konsentrasi estrogen menyebabkan penebalan dinding vagina, yang melindungi anjing dari trauma pada saat kawin. Ketebalan epitel vagina pada saat anestrus hanya beberapa lapis dan mudah rusak. Peningkatan konsentrasi estrogen pada saat proestrus menyebabkan multiplikasi cepat pada lapisan sel epitel vagina. Sehingga, ketika penis pejantan memasuki vagina, maka tidak akan berbahaya bagi anjing betina.
Peningkatan jumlah lapisan menyebabkan lapisan sel yang berada dekat dengan lumen tidak menerima aliran darah sehingga mengakibatkan kematian sel. Sel-sel mati berperan sebagai sel yang kurang sensitif dan tidak mudah hancur. Sel menjadi tidak mudah rusak tidak hanya karena meningkatnya jumlah lapisan sel, tetapi juga dikarenakan oleh perkembangan prekursor keratin di dalam sel-sel ini. Penebalan mukosa vagina dapat diketahui dengan sitologi.
Selama proestrus, mukosa tampak membulat, edema, licin, dan berkilau. Lipatan vagina berwarna merah muda dan menggelembung ke arah lumen akibat dari retensi cairan. Penurunan konsentrasi estrogen dan peningkatan progesteron pada 1 – 3 hari sebelum akhir proestrus, menyebabkan edema pada mukosa vagina berkurang, dan permukaan lumen yang tertarik menjadi berlipat-lipat secara progresif. Peristiwa ini disebut krenulasi. Krenulasi vagina terlihat dalam 24 jam sebelum lonjakan LH.
Lonjakan LH akan diikuti oleh ovulasi dalam waktu kurang lebih 24 – 48 jam. Pengawinan sebaiknya terjadi pada saat ini. Mukosa menjadi lebih terkrenulasi secara progresif, dan lipatan vagina menjadi lebih rata seiring berkurangnya edema. Selanjutnya, karena lapisan epitel yang menebal telah menghilang, mukosa sekali lagi menjadi mudah rusak dan hemoragi superfisial dapat terlihat dengan vagioskopi.


Estrus
Durasi. Estrus biasanya berlangsung selama 5 – 9 hari. Namun, panjangnya waktu estrus dapat bervariasi tergantung individu.
Gejala klinis. Perubahan tingkah laku yang terjadi pada saat estrus adalah anjing betina bersedia menerima pejantan yang ingin menaiki dan mengawini. Anjing juga akan membungkuk dan menaikkan perineumnya. Tekanan yang diberikan pada punggung bawah menyebabkan ekor disingkapkan ke samping dan tekanan yang jelas terlihat pada kaki belakang yang berguna untuk mnenahan berat tubuh pejantan. Leleran vagina berwarna merah muda dan mengandung glukosa.
Endoskopi vagina. Perubahan sekresi dari estrogen menjadi progesteron oleh folikel preovulatory mengakibatkan berkurangnya vaskularisasi mukosa vagina dan edema. Permukaan lumen vagina menjadi lebih terkrenulasi atau lebih melipat.
Perubahan hormonal. Konsentrasi estrogen meningkat 1 – 2 hari sebelum permulaan estrus. Biasanya anjing betina mulai menampakkan gejala estrus hanya ketika konsentrasi estrogen yang sebelumnya meningkat menjadi menurun. Penurunan konsentrasi estrogen merefleksikan proses final pematangan folikel ovarium, beberapa hari sebelum ovulasi.
Bersamaan dengan penurunan level estrogen, sel-sel folikel lainnya mengalami luteinisasi dan mensekresikan sejumlah besar progesteron. Kombinasi dari penurunan konsentrasi estrogen dan peningkatan konsentrasi progesteron pada akhir proestrus menstimulasi perubahan tingkah laku anjing betina pada saat estrus dan memberikan feedback positif terhadap hipotalamus dan pituitary, menghasilkan sekresi FSH dan LH pada permulaan estrus.
Progesteron meningkat diatas serum basal sebelum lonjakan LH. Dengan kata lain, sel-sel folikel yang mampu mensintesis dan mensekresikan progesteron berfungsi sebelum perkembangan corpus luteum. Peningkatan progesteron ini memperkuat intensitas dan durasi tingkah laku estrus.
Penurunan konsentrasi estradiol yang diikuti dengan peningkatan konsentrasi estrogen juga dianggap berperan dalam mengiinisiasi lonjakan LH. Lonjakan LH menginisiasi ovulasi dalam waktu 24 – 48 jam, yang setelahnya kemudian akan terbentuk corpus luteum.
Ovarium dan uterus. Ovarium yang membesar dapat dilihat dengan abdominal ultrasonografi. Ovarium memiliki bentuk oval yang akan menjadi bulat setelah ovulasi. Struktur yang teridentifikasi setelah ovulasi adalah nonovulatory folikel, korpora hemoragika, korpora luteal yang berisi air, atau folikel yang mengalami luteinisasi.
Folikel yang ruptur dengan cepat terluteinisasi. Bagian yang ruptur ini mengalami reorganisasi menjadi korpus luteum yang mampu mensintesis dan mensekresikan progesteron selama 2 bulan ata
Lebih.
Selama periode ini, uterus terus bersiap untuk implantasi. Perdarahan mikrovaskuler biasanya, walaupun tidak selalu, berhenti, dan perkembangan glandula diiringi peningkatan vaskularitas mendekati selesai. Uterus menjadi lebih mudah dipalpasi pada pemeriksaan abdomen, menunjukkan peningkatan ukuran dan ketebalan.

Diestrus
Durasi. Diestrus adalah fase setelah fase estrus dimana konsentrasi progesteron menjadi dominan. Fase ini berlangsung selama 56 – 58 hari pada anjing yang bunting dan 60 – 100 hari pada anjing yang tidak bunting.
Perubahan hormonal. Konsentrasi progesteron di dalam plasma meningkat diatas level basal (>0,5 ng/ml) pada akhir proestrus menjadi lebih besar dari 1 – 2 ng/ml pada saat permulaan estrus. Setelah ovulasi, korpus luteum berkembang di dalam ovarium pada bekas lokasi folikel yang ruptur, menyebabkan peningkatan populasi sel yang dapat mensintesis dan mensekresikan progesteron. Puncak sintesis progesteron oleh korpus luteum ini dicapai 20 – 30 hari setelah ovulasi. Pada saat ini, konsentrasi progesteron meningkat secara dramatis lebih tinggi daripada konsentrasi basal (15 – 90 ng/ml).
Ovarium dan uterus. Korpus luteum berlokasi di permukaan ovarium selama diestrus. Uterus merespon terhadap peningkatan konsentrasi progesteron dengan jalan memelihara struktur dan vaskularisasi yang dibutuhkan untuk kebuntingan.
Bersamaan dengan degenerasi korpus luteum dan berhentinya sekresi progesterin, diestrus berakhir dan uterus mengalami periode perbaikan. Periode involusi uterus ini membutuhkan waktu 1 – 3 bulan.
Gejala klinis. Fase diestrus dimulai ketika anjing betina menolak untuk dikawini. Vulva kembali ke ukuran semula dan tidak lagi membesar. Secara umum, tidak ada perbedaan yang timbul baik pada saat anestrus maupun diestrus.
Glandula mamae. Meningkatnya konsentrasi progesteron pada saat standing heat menginisiasi perkembangan glandula pada jaringan mamae. Perubahan ini biasanya menjadi lebih jelas ketika anjing mencapai trimester akhir dari diestrus. Konsentrasi prolaktin, yang meningkat selama minggu terakhir kebuntingan, menyebabkan persiapan laktasi untuk fetus yang akan dilahirkan.
Anestrus
Definisi. Anestrus adalah suatu fase dalam siklus reproduksi dimana uterus mengalami involusi. Anestrus dimulai pada saat anjing melahirkan dan berakhir pada saatnya dimulainya proestrus.
Durasi. Seperti fase lainnya, durasi anestrus pun bervariasi. Variasi ini tergantung dari ras, kesehatan, umur, lingkungan, dan berbagai faktor lainnya. Biasanya anjing betina memulai proestrus mereka setiap 7 bulan. Proestrus berlangsung selama 9 hari, estrus 7 – 9 hari, diestrus 58 hari, dan anestrus 4,5 bulan.
Konsentrasi hormon. Seperti pada spesies lainnya, ledakan sporadis sekresi LH terjadi selama anestrus pada anjing. Peningkatan LH yang terjadi secara tiba-tiba dan sementara ini menyebabkan munculnya dua episode sekrestori LH yang singkat namun potensial. Satu lonjakan LH segera diikuti permulaan proestrus, dan yang satunya lagi diikuti atau berbarengan dengan permulaan estrus dan kemudian ovulasi. Konsentrasi serum FSH juga meningkat selama anestrus, level hormon ini pada akhir anestrus sama tingginya seperti level hormon FSH pada saat lonjakan FSH preovulatory pada saat estrus.
Konsentrasi estrogen berfluktuasi secara signifikan selama anestrus. Lonjakan konsentrasi estrogen dilaporkan terjadi, dan hal ini diasumsikan berasal dari gelombang perkembangan folikel subklinis dan kemungkinan berumur pendek. Folikel-folikel ini mensitesis dan mensekresikan estrogen, menyebabkan naiknya, walaupun sedikit, konsentrasi estrogen. Karena folikel tidak pernah berkembang dengan sempurna, mereka regresi dan berkembang menjadi sel lutein yang mensekresikan progesteron. Serum estrogen menurun sebelum permulaan proestrus. Sebaliknya, progesteron tetap pada konsentrasi yang sangat rendah selama anestrus.
Uterus. Uterus selama anestrus mengalami perbaikan. perbaikan sempurna endometrium ke keadaan semula membutuhkan waktu kurang lebih 120 hari setelah konsentrasi progesteron kembali ke level basal pada anjing yang tidak bunting dan setelah 140 hari pada anjing yang bunting.

SIKLUS ESTRUS KUCING

Kucing biasanya memiliki siklus estrus pertamaantara usia 5 sampai 10, dengan usia rata-rata sekitar 6 bulan. Kucing betina mengalami estrus kira – kira 2 sampai 4 kali dalam setiab tahunnya. Jika perkawinan tidak terjadi, estrus dapat berlangsung 7 hari sampai 10 hari dan terulang kembali dalam wakti 15 sampai 21 hari kemudian. Kucing dapat mengalami estrus sekitar enam minggu setelah beranak.
Ada lima fase dalam siklus estrus pada kucing, yaitu proestrus, estrus, interestrus, diestrus, dan anestrus.
Proestrus
Merupakan fase pertama dari siklus estrus. Periode pertama fase estrus ini pertama kali terjadi pada kucing yang berusia empat bulan. Fase proestrus biasanya berakhir sekitar dua hari. Tapi terkadang pemilik tidak dapt mengetahuinya. Ciri – ciri dari fase ini adakah kucing sering berputar – putar pada lantai, menggosok-gosokkan kepala pada barang dan manusia. Dia akan mengambil posisi jika kita menepuk lembut pada bagian pangkal ekor. Melakukan senggama atau kawin tidak selamanya terjadi pada stadium ini. Kucing jantan sangat tertarik pada kucing betina pada fase ini, tetapi biasanya kucing betina tidak akan membiarkan kucing jantan mengawininya.

Estrus
Hanya pada fase inilah betina dapat menerima pejantan. Perubahan perilaku yang lebih jelas dalam estrus daripada di proestrus. Fase ini dapat bertahan selama sepuluh hari jika tidak ada perkawinan. Namun, tidak ada perubahan mencolok dalam penampilan atau ukuran dari alat kelamin eksternal yang jelas. Tetapi jika perkawinan terjadi, maka estrus dapat berlangsung tiga sampai empat hari saja. Jika itu kucing liar, maka dapat kawin dengan beberapa kucing jantan. Kucing betina disebut dengan “induced ovulator” yaitu betina hanya akan ovulasi ketika kehamilan tidak terjadi. Kopusi dimulai ketika hormone LH dibebaskan dan akan menstimulasi terjadinya ovulasi. Akan tetapi level LH bervariasi pada setiab kucing betina. Beberapa betina sudah cukup distimulasi oleh oleh satu pejantan.

Interestrus
Fase ini adalah periode fase beriring estrus jika ovulasi tidak terjadi. Jika kucing betina tidak mengalami perkawinan dia kan estrus rata – rata dua sampai tiga minggu.

Diestrus
Pada fase ini, kucing – kucing betina akan menolak kucing jantan untuk mendekatinya dan perilakunya kan kembali normal. Tetapi jika terjadi perkawinan pada fase ini maka dapat menimbulkan kehamilan (9 minggu). Jika tidak terjadi perkawinan itu akan bertahan sekitar satu sampai dua minggu sebelum ke fase berikutnya. Kehamilan semu dapat selalu terjadi jika ovulasi terjadi tanpa ada konsepsi. Pada kasus ini, diestrus akan bertahan sebulan atau enam minggu bahkan lebih panjang lagi. Satu-satunya perbedaan antara tahap ini dan selanjutnya adalah tingkat tinggi hormon progesteron dalam tubuhnya.

Anestrus
Ini merupakan fase akhir dari siklus estrus. Fase ini adalah fase istirahat sebelum menuju kembali ke fase proestrus dan pada periode ini system reproduksi inaktif atau bias disebut dengan fase “mandul”. Kucing betina akan menolak kucing jantan.
Ovulasi dipicu oleh kopulasi atau terjadinya stimulasi pada daerah vagina. Ini terjadi karena adanya rangsangan pada hipotalamus menuju ke sumsum tulang belakang. Hipotalamus akan membebaskan GnRH dari hipofisis anterior kemudian menghasilkan LH (estrogen) yang akan menstimulasi terjadinya ovulasi dan perkembangan dari corpus luteum.

DAFTAR PUSTAKA
Feldman, E. C. dan Nelson, R. W., 2004. Canine and Feline Endocrinology and Reproduction, Third Edition. Elsevier, USA.

Sunday, July 22, 2012


BUDIDAYA TANAMAN ALFALFA
(Medicago sativa)

Klasifikasi Ilmiah Alfalfa:
Kingdom         :Plantae
Divisi               :Magnoliophyta
Kelas              :Magnoliopsida
Ordo              :Fabales
Famili             :Fabaceae
Upafamili        :Faboideae
Bangsa            :Trifolieae
Genus             :Medicago
Spesies           :M. sativa

Alfalfa (Medicago sativa) adalah spesies tanaman yang dimanfaatkan sebagai makanan ternak (pakan) untuk sapi perah, kuda, sapi potong, domba dan kambing. Alfalfa juga digunakan dalam sistem rotasi tanaman pangan karena dapat mengikat nitrogen memperbaiki struktur tanah, dan mengontrol gulma untuk tanaman berikutnya yang akan dibudidayakan. Sejarah tertua mengenai tanaman ini berasal dari sisa-sisa alfalfa berusia 6000 tahun telah ditemukan di Iran. Tulisan tertua mengenai alfalfa diperkirakan berangka tahun 1300 SM dan ditemukan di Turki.
Sebagai pakan ternak, tanaman ini memiliki kandungan protein, vitamin dan mineral yang tinggi. Untuk melakukan budidaya alfalfa, kondisi tanah yang harus diperhatikan adalah pH (tingkat keasaman) tanah berkisar 6,3-7,5 dan kandungan garam dalam tanah tidak boleh terlalu tinggi. Selama masa aktif pertumbuhannya, alfalfa tidak membutuhkan tanah yang basah.

Deskripsi
Alfalfa adalah tanaman sejenis tanaman herba tahunan yang memiliki beberapa ciri, yaitu berakar tunggang, batang menyelusur tegak dari dasar kayu dan tingginya berkisar 30-120 cm, serta daun tersusun tiga. Tangkai daun berbulu dan berukuran 5-30 mm. Kedalaman akar alfalfa dapat mencapai 2-4 meter. Saat memulai perkembangan batang, tunas aksiler di bagian bawah ketiak daun akan membentuk batang sehingga mahkota pada bagian dasar menjadi pangkal dan tunas aksiler di atas tanah membentuk percabangan. Perbungaan tersusun pada tandan yang padat dengan bunga kecil berwarna kuning. Tumbuhan ini mampu hidup hingga 30 tahun, bergantung dari keadaan lingkungan. Alfalfa juga memiliki bintil (nodul) akar yang mengandung bakteri Rhizobium meliloti sehingga dapat menambat atau mengikat nitrogen dari atmosfer untuk keperluan tumbuhan.
Kultivasi
Musim penanaman alfalfa biasanya berlangsung pada peralihan antara musim semi ke musim gugur, namun pertumbuhan utama terjadi pada akhir musim semi atau awal musim panas. Tumbuhan ini memerlukan waktu penyinaran yang panjang. Perkebangan perbungaan dari setiap kultivar alfalfa dapat berbeda satu sama lain karena lama penyinaran yang diperlukan juga berbeda. Alfalfa tahan terhadap herbisida seperti benazolin, bentazon, dan asam 2,4-Diklorofenoksiasetat. Apabila ingin menanam alfalfa saja (monokultur), terutama pada musim dingin, dapat digunakan propizamida untuk mencegah pertumbuhan gulma yang mengganggu.
Tanaman ini dapat dibudidayakan bersamaan dengan beberapa tanaman lain, seperti kembang telang (Clitoria ternatea), Cenchrus ciliaris, Macroptilium bracteatum, dan lain-lain. Tanaman alfalfa lebih tahan terhadap kekeringan bila dibandingkan tanaman kacang-kacangan lainnya. Hal ini dikarenakan akar yang panjang dan tanaman memiliki kemampuan melakukan dormansi (tidak aktif) saat musim kemarau yang parah. Saat mencapai kelembaban tertentu, alfalfa dorman dapat kembali aktif.
Pada tahap pembenihan, irigasi umumnya diperlukan. Untuk mencegah hama dan penyakit, penyemprotan fungisida dan insektisida diperlukan dalam masa penanaman. Beberapa agen penyebab penyakit pada alfalfa adalah Xanthomonas alfalfa, Alternaria solani,Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani, Phytophthora megasperma, dan Uromyces striatus. Pada waktu panen, biji-bijian biasanya disemprot dengan pengering tanaman untuk mempercepat pengeringan. Waktu panen yang tepat adalah ketika polong-polongan berisi biji sudah 65-75% berwarna coklat gelap.

Manfaat
Budidaya alfalfa sebagai pakan ternak dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu penggembalaan dan konservasi. Alfalfa dapat ditanaman sendiri ataupun sebagai campuran di antara rumput tropis dan sub-tropis. Bibit alfalfa juga banyak ditanaman sebagai kecambah untuk makanan manusia.
Alfalfa banyak diproduksi karena nilai nutrisi dan produksinya yang menguntungkan, selain itu tanaman ini juga disebutkan memiliki rasa yang enak. Dibandingkan dengan pakan ternak dari tanaman lainnya, alfalfa memiliki kandungan proyein dan kalsium yang tinggi, tetapi energi termetabolisme dan kadar fosfor di dalamnya relatif rendah. Alfalfa juga termasuk berserat rendah sehingga mudah mencapai rumen (perut besar) dan mudah dicerna oleh hewan ternak.
Dengan pemberian irigasi, tanaman alfalfa dapat memproduksi 25-27 ton per hektar kadar kering pada tahun pertama dan turun hingga 8-15 ton per tahun pada tahun ketiga. Produksi tersebut bergantung pada densitas tanaman, tingkat resistensi hama dan penyakit, aktivitas di musim dingin, dan hujan yang memengaruhi kelembaban tanah. Dengan hasil produksi tersebut, penanaman alfalfa dapat meningkatkan produksi susu pada sapi. Alfalfa yang tumbuh sepanjang tahun ini juga mencegah terjadinya defisiensi (kekurangan) energi pada ternak dan memperbaiki atau meningkatkan padang rumput.

Manfaat Tanaman Alfalfa
Daun alfalfa dan rumput timothy adalah pakan ternak yang sangat baik dibandingkan rumput lain karena pakan ini kaya akan kandungan protein, vitamin dan mineral, selain diberikan dalam keadaan segar pada ternak/hewan peliharaan. Daun alfalfa dan rumput timothy juga dijadikan hay(rumput kering) yang banyak dijual dipetshop dengan harga kisaran 50-60rb/kg.
Alfalfa kaya akan berbagai zat gizi. Kandungan klorofilnya sangat tinggi, sehingga tumbuhan yang banyak dimanfaatkan daunnya ini dipercaya bisa menyembuhkan bermacam penyakit, mulai dari perut kembung sampai kanker. Kata alfalfa mungkin masih terasa asing di telinga orang Indonesia. Tanaman alfalfa memang belum banyak dibudidayakan di sini, meski berbagai produknya banyak dijual di pasaran. Salah satunya dalam bentuk suplemen. Alfalfa merupakan tanaman kacang-kacangan yang tumbuh di berbagai kondisi iklim, dengan kemampuan adaptasi cukup baik, sehingga tersebar di berbagai belahan dunia. Amerika Serikat merupakan produsen alfalfa terbesar hingga saat ini.
Namun, tanaman ini juga dibudidayakan di Eropa, Australia, Amerika Selatan, Afrika Selatan, Cina, dan Timur Tengah. Di Indonesia, tanaman ini mulai dibudidayakan sebagai pakan ternak. Alfalfa dikenal sebagai salah satu tumbuhan dengan kandungan gizi sangat tinggi. Kandungan kalsium, klorofil, karoten, dan vitamin K yang cukup tinggi, menjadikan alfalfa sebagai salah satu suplemen yang sering dikonsumsi manusia. 
Saponin pada akar alfalfa dapat menghambat peningkatan kolesterol dalam darah hewan percobaan yang diberi pakan tinggi kolesterol (sebesar 25 persen). Sayangnya, saponin juga memiliki efek negatif, yaitu bersifat hemolitik dan dapat mengganggu metabolisme vitamin E.
Keunggulan lain alfalfa adalah memiliki kandungan vitamin dan mineral cukup lengkap. Vitamin yang terkandung dalam alfalfa adalah: vitamin A, thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin (vitamin B3), vitamin B5, vitamin B6, vitamin C, vitamin K, dan asam folat. Mineral unggulan, yakni kalsium, besi, magnesium, fosfor, tembaga, dan seng. Jumlah vitamin dan mineral tersebut dapat dilihat pada tabel.

Kandungan Nutrisi per 100 gram Alfalfa
NAMA  ZAT
KADAR NUTRISI
Calories
23.0 kkal
Carbohydrate
2.1 g
Dietary Fiber
1.9 g
Total Fat
0.7 g
Protein
4.0 g
Vitamin A
155 IU
Vitamin C
8.2 mg
Vitamin K
30.5 mcg
Folate
36.0 mcg
Calcium
32.0 mg
Iron
1.0 mg
Magnesium
27.0 mg
Phosphorus
70.0 mg
Potassium
79.0 mg
Water
92.8 g
*sumber:www.nutritiondata.com

Sebetulnya hampir seluruh tumbuhan hijau mengandung vitamin K. Namun, kandungan vitamin K dalam 100 gram alfalfa cukup tinggi, yang dapat memenuhi 38 persen dari total kebutuhan tubuh dalam sehari. Hal ini dapat menjadikan alfalfa sebagi salah satu sumber vitamin K bagi tubuh. 
Vitamin K sangat penting untuk pembentukan protein dan penggumpalan darah pada saat terjadi luka. Vitamin K juga dapat berfungsi sebagai zat antihemolitik, khususnya saat terjadi perdarahan, seperti pada orang-orang yang sedang melakukan terapi antibiotik dan bagi penderita diare kronis.

Syarat Tanam Alfalfa Agar Tumbuh Subur : 
1.     Tanah subur dan gembur (Sandy).
2.     Tanah tidak basah juga tidak kering
3.     PH tanah agar tumbuh optimal pada kisaran 6,7 sampai dengan 6,9
4.     Cukup pengairan
5.     Cukup sinar matahari
6.     Cukup penyemprotan pupuk daun secara berkala
7.     Cukup pembersihan lahan dari gulma
8.     Pembenihan perlu menggunakan mulsa atau paranet agar terjaga dari terpaan angin, hujan, dan terik sinar matahari langsung.
9.     Masa rawan pembenihan sampai dengan 40 hari
10.  Pola tanam sebaiknya semai langsung tanam pada lahan (tidak dipindahkan)
11.  Panen perdana usia 2 bulan, selanjutnya setiap bulan dapat dipanen
12.  Masa produktif tanaman alfalfa 3 – 5 tahun
13.  Setiap lubang diberi 3-5 biji alfalfa.
14.  Jarak tanam antar lubang 5-10 cm.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.